Its Hurts, but not the end
Have you even been in love? Horrible, isn’t it? It makes you so vulnerable.
It opens your chest and it opens your heart and it means someone can get inside you and mess you up. You build up all these… Rose Walker
Suatu sore, aku kebetulan ada ditempat seorang teman didaerah Jakarta Barat, kita lagi asik bicara tentang pekerjaan dan bisnis, then suddenly my selular phone berbunyi…
“Kus lo dimana…”
“Gw ada di tempat temen gw, ada apa neh….”
“Si xxx mutusin gw”
“What…, udah…tenang…tar lage gw pulang, sejam lage tar gw call”.
Cerita diatas benar terjadi, yah beberapa waktu lalu, memang akhir dari cerita itu adalah mereka berbaikan kembali…tetapi bukan itu yang menarik untuk ditulis, karena dalam kasus tertentu, ada orang-orang yang akhirnya harus berakhir dalam hubungan dan mereka mengalami kehancuran…bahkan ingin mengakhiri hidup.
Aku sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri, mereka yang ingin mengakhiri kehidupan karena itu.
Yah dalam urusan demikian (red Cinta), bukan hal baru kalau urusan cinta beralur cerita sedih, kalau ada cerita yang indah itu hanya cerita Cinderella yang berakhir “happly ever after”, tapi kenapa tidak pernah ada kelanjutan dari cerita Cinderella setelah mereka menikah? Jangan-jangan mereka sudah bercerai tiga tahun kemudian…(ini sekedar celotehanku).
Atau apakah kisah itu selalu penuh dengan cerita manis……Lupakan urusan film itu, toh itu film kartun yang diperuntukan untuk konsumsi anak-anak dan hanya ada dalam dongeng yang not real, bukan bagi orang-orang dewasa dan bagi kita yang hidup dalam realitas.
Tapi memang benar dalam urusan cinta kita lebih banyak merasa sedih dibanding bahagia..itu lah kenapa kita melihat akhir cerita Romeo & Juliet karya Shakespeare berakhir teragis…atau kisah Sapho yang meloncat dari tebing karena cintanya ditolak…atau kisah-kisah yang menghiasi koran Pos Kota atau Lampu Merah “Akhir kisah seorang pecinta”.
“Dalam urusan cinta kita lebih banyak sedihnya dibanding bahagia”- By Me
Belum lagi tulisan-tulisan sastra yang ditulis banyak penulis intinya “cinta itu tak pernah hanya berasa manis tapi juga pahit…menyakitkan…mengoyak…mencabik..bahkan membunuh”.
Seperti Gibran dalam bukunya “The Prophet” Ia menulis :
Berkatalah Almitra : “Bicaralah kepada kami tentang cinta”
Diangkatnya kepala dan disapukannya padangan kepada pendengarnya.
Suasana hening meliputi mereka. Maa terdengar lantang ia bertutur kata :
“Pabila cinta memanggilmu ikutilah dia, walau jalanya terjal berliku-liku.
Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia berbicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu mimpimu, bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.
Sebab sebagaimana cinta memahkotaimu, demikian pula dia menyalibmu. Demi pertumbuhanmu begitu pula demi pemangkasanmu.
Sebagaimana dia membubung, mengecap puncak-puncak ketinggianmu, membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari, demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu, mengguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.
Laksana butir-butir gandung kau diraihnya.
Ditumbuknya kau sampai polos telanjang.
Diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu.
Digosoknyam sehingga menjadi putih bersih,
Diremas-remasnya menjadi bahan yang lemas di bentuk, dan akhirnya diantarkan kepada api suci,laksana roti suci yang dipersembahkan pada pesta kudus Tuhan…..
**
Cinta lebih banyak bicara sesuatu yang menyakitkan dibandingkan kebahagiaan…karena begitulah cinta…rislahnya selalu memiliki rasa pahit.
Tetapi apakah kita juga harus berakhir pada rasa sakit?
Apakah kita menyerah dan tidak mau mencintai karena cinta punya rasa yang tidak enak?
Apakkah karena kehancuran itu orang lebih memilih kegilaan dibanding akal sehat.?
Apakah karena itu semua kita mengacungkan “Glock 9” disamping kepala, menarik pelatuknya, melepaskan proyektil menembus Temporal Lobe, membiarkan proyektil memilih jalannya….sekali lagi akhir dari cerita itu adalah sebuah head line surat kabar ibu kota.
Apakah harus berakhir seperti itu?
Benar Loves Hurts…tidak harus selalu demikian, tidak harus diakhiri dengan kebodohan.
Be grow ups…be strong…broken heart is not end of the word…Mr Big dalam lyricnya …
A broken heart can’t be that bad, When it’s through, it’s through ,Fate will twist the both of you ,So come on baby come on over
Kita bisa melihat sesuatu yang menarik dibalik semua itu.
Saat kita bisa melihat lebih lagi, kita akan mengerti bahwa cinta juga mengajarkan kita sesuatu, yaitu melebihi dari rasanya yang pahit, cinta mengajarkan kita tentang melihat kehidupan, menjadi lebih kuat dan dewasa, lebih realistis, lebih bisa mengerti tentang apa artinya…begitu pula dalam hubungan mengajarkan pemahaman, dan pengertian tentang hubungan itu sendiri, tak ada gunanya menyalahkan diri…lebih baik mengintrospeksi diri, memperbaiki diri, melihat episode-episode dalam hubungan itu, mengambil hikmahnya…kita harus sadar tak ada hidup tanpa kegagalan, dan kegagalan bukan akhir, apalagi kegagalan karena cinta…banyak yang lebih berharga.
Hidup itu sendiri lebih berharga dibandingkan kegagalan.
Belajar dari semua itu lebih bearti dari pada berhenti menjalani kehidupan.
Orang-orang yang mencintai kita juga sangat berarti.
Ini lebih real..ini lebih bisa dibilang masuk akal dibanding kita berstress ria dalam kesedihan…
Good people are good because they’ve come to wisdom through failure. We get very little wisdom from success, you know. – William Saroyan
“Cinta adalah melihat apa yang baik dan indah dalam segala sesuatu. Mencintai adalah belajar dari segala sesuatu, melihat anugrah Allah dan kemurahan Allah dalam segala sesuatunya” – (Syeikh Muzaffir)
Awal Desember 2005



Similar/Related Posts