Maybe Is Too Late
Suatu hari, sahabatku Hari datang kerumah, ia masuk keruang kamarku, dan langsung berbaring diatas ranjangku, lalu ia bercerita tentang pengalamannya, entah omongan apa hingga ia bercerita tentang “Pohon, Daun, dan Angin”, aku tak ingat pasti cerita itu, tetapi aku terkesan, aku mengerti inti ceritanya, lalu aku menanyakan dari mana ia dapatkan cerita itu, aku meminta agar ia menuliskannya dan mengirimkannya ke emailku, tapi ia berkata bahwa cerita itu ia dapat dari sahabatku yang lain Erwin.
Waktu berlalu, aku mengirim pesan singkat ke Erwin agar ia mengirimkan cerita tentang “Pohon, Daun dan Angin”, Erwin berkata ia sudah tak menemukan cerita itu di Inbox emailnya, aku kecewa aku tak dapat membaca cerita itu lebih lengkap.
Yah tak apalah…tapi kali ini aku mencoba menuliskannya dengan bahasaku sendiri.
Kadang hidup itu aneh, cinta itu aneh, karena kita tak sadar kalau dalam kehidupan kita, kita mencoba melihat “mencari” cinta dari orang yang kita inginkan atau mungkin kita lebih mementingkan hal-hal lain daripada orang yang mencintai kita.
Kadang kita merasa bahwa kita begitu populer, begitu bangga dengan diri kita, selalu melihat kearah yang kita inginkan, seperti mengenakan kacamata kuda hanya tertuju pada satu arah saja… karir, kehidupan, kekayaan, bahkan hal-hal yang nampaknya mulia.
Yah anggap saja dalam hal ‘cinta’, kita mencintai begitu rupa seseorang (yang belum tentu mencintai kita kembali), tapi tanpa sadar, ada orang lain lagi yang begitu mencintai kita, memperhatikan bahkan mencurahkan segenap hidupnya bagi kita, bahkan mungkin mencintai dengan ketulusan dan kemurnian…tetapi kita tidak melihat bahkan mengindahkan nya.
Atau sepanjang hidup kita mencari dan mengejar karir, hingga kita tak mengindahkan orang yang mencintai kita.
Sampai-sampai, kita tak pernah perduli seberapa ia kecewa dan hancur, yah mana ada yang perduli karena kita mata kita tertuju kepada hal lain.
Pada akhirnya, saat kita tak memperoleh apa yang kita inginkan, kita sadar dan mencoba mencari orang yang selama itu begitu perhatian pada kita, setelah kita sadar, ia sudah tak lagi ada didekat kita, ia telah pergi terbawa oleh angin, yah hilang terbawa oleh “Angin”.
Akhirnya kita hanya diam…is too late, ia sudah pergi bersama Angin.
Kita tak mendapatkan apa-apa, selain akhir yang hampa.
Aku pernah ingat kisah seorang penyanyi yang ternama, entah gosip ini benar atau tidak, aku menyukai lagu-lagunya, ia kehilangan istri yang selalu menemaninya, karena ia begitu sibuk dengan tour dan karirnya…is too late.
Dalam kesempatan yang lain aku pernah berkata kepada seorang teman, teman yang sangat special bagiku “This the time for me to loves, to loves and care everybody all around me, maybe someday i dont have chances to love them anymore, now is time to love and care, with all my heart and cost”.
Mungkin belum terlambat jika kita sadar…tetapi kadang kesadaran muncul saat semuanya sudah terlambat.
Selama itu daun selalu menempel pada pohon, pohon tak pernah sadar akan keberadaan daun, pohon baru sadar saat sang daun tak lagi ada menempel pada pohon, karena daun sudah pergi terbawa angin.
You have no right to ask me how I feel
You have no right to speak to me so kind
We can’t go on just holding on to time
Now that we’re living separate lives
Well I held on to let you go
And if you lost your love for me, well you never let it show
There was no way to compromise
So now we’re living (living)
Separate lives
Ooh, it’s so typical, love leads to isolation
So you build that wall (build that wall)
Yes, you build that wall (build that wall)
And you make it stronger
(form : Saparate lives – Lyric by Phil collins)
26/11/2005 19:55


