Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

participate
Kesetiaan
By. marcus . October 17th, 2005 at 10:33 pmjobs
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kesetiaan

          Beberapa saat lalu seorang yang saya kenal terus mengungkapkan isi hatinya tentang ketidak percayaannya kepada pria (mungkin semua pria), ia berkata “aku sudah tidak mau mudah percaya kepada pria”.
            Lalu saya berkata “kalau gitu kamu tidak percaya padaku dong”.
            Dan dengan gamblang ia berkata “Iya”.
            Menurut anda apa lantas saya marah dengan pendapatnya?, lalu saya berkata “Aku bisa mengerti” mungkin anda bingung kenapa saya bisa mengerti? karena saya mengerti background kehidupan relasinya yang terdahulu, ia pernah di kecewakan, ia pernah di hianati.
            Kesetiaanya sebagai seorang wanita tidak dihargai.   Bahkan kesetiaanya menanti dan menjalani hubungan itu sekian lama tidak di nilai sebagai sesuatu yang berharga.
            Lalu serta merta muncul dalam pikiran dan benak saya “Apa semua pria kayak gitu?”, “Gara-gara satu pria, saya pun ikut tidak dipercayai saya pun dilemparkan kedalam kotak dan digolongkan sebagai PRIA yang tidak setia”.
            Padahal tidak semua pria seorang yang tidak setia.
            Saya disini sedang tidak membela gander atau membela kaum pria, karena saya bukan mentri peranan pria atau ketua LSM gerakan pembela Pria, atau orang yang punya suara dikalangan pria. Disini saya mencoba berfikir apakah kesetiaan benar-benar sudah tidak ada….atau begitu tidak berarti lagi.
            Saya pikir hal itu wajar-wajar saja, jika wanita dengan segala kelebihannya, mereka adalah mahluk yang indah ciptaanNya yang memang lebih dalam hal perasaan, lumrah jika mereka menjadi traumatik karena pernah disakiti dan hati-hati kepada semua pria karena ada pria (tidak semua) pernah menyakitinya.
            Tetapi dijaman sekarang kita juga bisa menemukan bahwa kadang pria pun jadi korban ketidak setiaan wanita.
            Oke lah kita anggap keduanya sama-sama punya prosi yang sama untuk tidak setia.
            Tetapi apakah memang benar kesetiaan itu benar-benar sudah tidak ada dalam kehidupan kultural kita, orang lebih suka tidak setia dengann membohongi pasangannya demi sebuah kata excaitment. Ya saya pernah mendengar seorang teman berkata “tidak seru kalau tidak selingkuh”.
        Tetapi apakah benar seperti itu?
            Yah saya sedang tidak mencari arti dari kesetiaan, tetapi jika saya boleh berceloteh sedikit. Jika kita bisa tidak setia kepada pasangan kita (saat pra nikah) lantas apakah kita bisa menjamin kita setia saat kita membangun sebuah rumah tangga, apakah kita bisa setia pada hal-hal lain, lantas bagaimana jika kita sudah kakek-kakek atau nenek-nenek nanti, kita melihat 5 anak-anak kita keluarganya penuh dengan percekcokan dan kehancuran karena anak-anak kita itu mereka pada hidup dengan tidak setia kepada pasangannya.
            Apa kita akan berkata “hey anak…anak jangan”.
            Apakah kia akan berusaha menasehati dengan banyak wejangan yang bagus-bagus, padahal kita tidak pernah tahu makna kesetiaan.
            Sebenarnya ada kekalahan dalam diri kita saat kita lebih memilih kesenangan seketika dibandingkan dengan kualitas hidup dan hidup kita bisa membawa efek yang baik kepada anak-anak kita kelak.
            Saya percaya jika akarnya baik tentu ranting dan dahannya baik. Jika orang tuanya bisa mendidik dan memberi contoh yang baik dalam satu hal yang kita sebut “kesetiaan” kita yakin kita akan melihat orang lain (mungkin anak-anak kita sendiri) hidup dalam kesetiaan. Insyaalah
            Ada sebuah film yang saya tonton beberapa saat lalu yang sutradarai oleh Eric Schaeffer, yang berjudul MAID GAP.
            Dalam kisah itu ada seorang suami yang bercerai dengan istrinya karena ia ketahuan selingkuh (tidak setia), hidup hari-harinya setelah perceraiaan begitu hancur, begitu tak berguna, ia pernah mengarahkan kakinya ke sebuah toko dan membeli senapan, dan laras senapan itu pernah terarah ke kepalanya, tetapi ia tak sanggup menarik pelatuk  senapan itu. Ya itu semua ia lakukan karena ia merasakan hidupnya hancur setelah perceraiaan, ia kehilangan buah hatinya, karena ia sudah hidup terpisah dengan mantan istri dan anaknya.
            Sampai suatu saat ia datang ke pendeta dan bertanya, apa yang aku harus lakukan, pendeta itu menyarankan agar ia meminta ampun kepada istrinya karena ia pernah selingkuh, dan benar ia pergi ke NewYork dan meminta ampun kepada istirnya (yang detik itu masih sakit hati).
            Ia menceritakan apa yang terjadi beberapa saat lalu, saat ia mencoba bunuh diri, dan ia pergi ke pendeta.
            Dan ada kata yang menarik dari sang istri “Jika itu bisa membuat kamu lebih bebas didalam hati untuk menjalani hidupmu…aku mengampunimu”. Ia pun pergi dan berbicara hal yang sama untuk meminta maaf kepada anaknya yang usianya masih 5 tahun, saya percaya anak itu tidak mengerti apa yang ayahnya katakan, tetapi sang ayah yang tidak setia itu, tetap menjelaskan dan meminta maaf kepada anaknya.
            Cerita diatas membawa saya kepada pemikiran dan perenungan begitu sederhananya kesetiaan tetapi jika kesederhanaan itu kita langgar banyak hati yang sakit, banyak hidup yang hancur, banyak jiwa yang terkoyak karena ia dihianati, yah jika kita tidak berfikir apakah perbuatan kita akan melukai orang lain, mungkin kita akan engan berbuat tidak setia. Tetapi semua itu hidup dan keputusan anda masing-masing? Pilihlah kehidupan itu.

Similar/Related Posts

Leave a Comment

 
suggest

site-map
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA handbook