Telanjang atau ditelanjangi? (sekelumit tentang Nude Photography)
(artikel photography).
Saya baru saja ditanyai dalam sebuah wawancara sebuah radio swasta dan mereka ingin pendapat saya tentang heboh foto telanjang Anjasmara, jujur saya belum pernah melihat tentang foto itu dari dekat, tetapi saya sudah melihatnya sekilas ditelevisi.
Kalau ditanya apakah foto itu seni ? bagi saya pribadi sebagai fotografer, dan penikmat seni, saya berkata foto itu seni.
Kalau ditanya bagaimana kan foto nude itu bisa dikatakan seni, saya berkata : jika foto itu dipresentasikan, dibuat, dibingkai, diperindah, disajikan, dikomposisikan, dengan apik maka itu foto seni, tetapi jika foto itu hanya menampilkan ketelanjangan dan hanya mengetengahkan itu saja apalagi dengan maksud untuk mengumbar nafsu, eksploitasi tubuh secara vulgar (alat vital bahkan mempertunjukan adegan intercorse) jelas itu foto karya pornografi.
Sebenarnya banyak foto-foto yang lebih bisa dibilang porno dengan maksud eksploitasi yang bisa kita temukan di internet…sedangkan di Indonesia sangat sedikit karya yang bisa dikatakan “Nude art photography”.
Lalu apa bedanya antara neked dan nude…: keduanya memiliki term sama, yaitu ketelanjangan, tetapi keduanya memiliki tingkat pemahaman bagi seniman yang berbeda, naked akan selalu mempertunjukan hanya sekedar ketelanjangan, sedang nude, selalu mengetengahkan sisi keindahan, unsur-unsur estetis yang dimasukan kedalam karya tesebut. Sedang naked tidak….ia akan tampil hanya telanjang…titik.
Untuk itu kita harus membangun garis jelas dari artian nude photography dan photo porno.
Memang dalam kultural indonesia masih belum diterima foto-foto yang semacam itu…oke itu tidak masalah, hal itu karena kalau kita boleh sadari itu karena proses pembelajaran akan keseniaan itu sendiri dalam masyarakat kurang, kita disekolah pelajaran moral lebih diketengahkan dibandingkan pelajaran seni.
Artinya seni tidak mendapat porsi yang tepat, padahal lewat keseniaan kultural, tingkat kebudayaan sebuah bangsa juga ditentukan dari seni tadi.
Kenapa kita tidak pernah diajar patung-patung pada masa romawi dibuat dengan tanpa pakaiaan, dan pada masa itu hal itu tidak dibilang porno, kenapa kita tidak pernah diperkenalkan kepada karya Frencis Goya, La Maja Desnuda dan La Maja Vestida. Karya seni Eropa abad 19, dimana Goya dengan sengaja mengetengahkan dua karya lukisan dari wanita yang sama, yang satu berpose telanjang dan tidak.
Kenapa kita tidak pernah diperkenalkan kepada karya-karya seperti karya fotografi JAM Montoya. Dimana dalam karya nya ia mengetengahkan (maaf) alat kelamin pria dan tangan seorang wanita yang dengan lentik sedang touching, dengan pencahanyaan dari atas hingga menimbulkan bentuk-bentuk estetsi yang tidak samar tetapi nyata. Parejas – H Kliczkowski Publishing Onlybooks.
Kenapa kita juga tidak pernah diperkenalkan kepada karya Duane Michals, pria dan wanita dengan ketelanjangan berpelukan menatap keluar jendela. Yang berjudul Newlyweds 1967.
Pengenalan-pengenalan inilah yang akan membawa kita kepada pemahaman-pemahaman bahkan pengertian-pengertian kita yang bisa dengan mengerti karya ini porno atau tidak.
Selanjutnya, proses komunikasi antara pembuat dan penikmat karya juga kurang. Pembuat karya (seniman,fotografer) lebih suka menikmati diri dengan membuat karya, memuaskan hasrat, dalam menciptakan karyanya….jujur bagi saya itu sama saja ia sedang masturbasi (memuaskan diri), tanpa ada upaya untuk dialog dengan penikmat karyanya.
Dialog inilah yang bisa memberikan pemahaman dan penjelasan jelas kepada pemirsa atau penikmat….kita bisa mengajak penikmat masuk kedalam alam pemikiran kita, akhirnya bisa diperoleh sebuah nuasa pemahaman…walau kita tak bisa memaksakan pemahaman satu sama lain sama… Selanjutnya dengan demikian kita bisa memberikan pendidikan kesenian juga kepada masyarakat. Ini loh foto nude art, dan ini loh foto naked.
“….Memandang sebuah foto, artinya memandang melalui mata seorang fotografer. Tak pelak seorang fotografer adalah seorang pengembara dalam semesta penampakan. Ia berjalan, memandang dan memotret. Berjalan memandang dan memotret. Berjalan memandang dan memeotret. Sedangkan kita hanya tinggal membuka mata didepan foto untuk melihat pemandangan yang sama. Masalahnya seberapa jauhkan para pemandang foto ini dapat melihat segala sesuatu yang dilihat sang fotografer? Tepatnya seberapa jauh mata kita terbuka meskipun gambarnya nyata-nyata ada didepan kita? Rupa-rupa mata yang terbuka saja belum cukup untuk memandang dunia. Seperti para fotografer, para pemandang foto pun harus berangkat mengembara dalam semesta penampakan itu dan membingkai pembermaknaannya sendiri”.
From – KISAH MATA “Fotografi antara dua subyek” Seno Gumirah Ajidarma – Galang Press


