careers
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

help
Ihh..Kelihatan (sekelumit tentang Nude Photography) part 2
By. marcus . September 27th, 2005 at 7:33 pme-mail
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Ihh..Kelihatan  (sekelumit tentang Nude Photography) part 2

    Belum reda hangatnya pemberitaan tentang foto nude anjasmara, ia dilaporkan oleh salah satu ormas kepolisi karena menampilkan ke seronokan yang menyingung moral.
    Mari kita lupakan proses lapor melapor itu, catatan ini lebih mirip bagi saya sebagai pemikiran kecil, tergantung kita menangkapnya…apakah saya pro nude art atau saya pro dengan moralitas.
    Yah polemik ketelanjangan ini memang sudah jadi masalah sejak tahun 90an, dari masalah foto nude Sofia Latjuba dan yang terakhir foto nude anjasmara yang kehangatan beritanya belum reda, tetapi kenapa ketelanjangan ini tidak jadi masalah ya pada masa raja-raja romawi, kenapa relife di candi borobudur pun juga mengutamakan sesualitas tetapi diangkat sebagai adikarya bahkan disebut bangunan bersejarah.?
    Siapa yang mau melaporkannya?
    Gimana dengan pedagang vcd porno yang ada diglodok sedangkan kita bisa lihat disana berdiri pos polisi berseberangan dengan pusat perdagangan vcd porno.
    Gimana dengan media seronok yang makin hari makin vulgar mempertontonkan ketelanjangan dan benar bisa dikatakan “ih kelihatan”, tanpa sedikit pun mengandung unsur seni, bahkan membuat angka kejahatan sexual meningkat?.
    Kenapa tak ada yang protes dan siapa yang mau melaporkannya?
    Mari kita lupakan kebingungan itu..kembali ke kepembahasan yang dasar tentang ketelanjangan yang disenikan atau ditampilkan hanya sekedar pemuas nafsu.

    Memang foto dan lukisan berbeda, dalam foto, realitas ditampilkan utuh, tanpa ada sentuhan, seolah-olah realitas tadi hadir didepan kita.
    Inilah yang kadang membingungkan kita khususnya bagi orang awam, foto wanita telanjang dada, akan tampil sebagai wanita telanjang dada, kita tak bisa menyebutnya serta merta sebagai seni.
    Memang demikian…
    Karena begitu juga foto gadis yang telanjang dengan seronok akan tampil seperti apa adanya, berbeda dengan lekuk tubuh seorang gadis yang diusahakan oleh fotografer atau seniman dengan memasukan segala unsur estetis dan seni didalamnya.

    Untuk itu bagaimana menjembatani pemahaman itu.?

    Seorang seniman berkata memang ketelanjangan ini tergantung ruang dan waktu, saat ketelanjangan itu dipasang dibilbord tepat didepan rumah ibadah, maka jangan salah jika itu akan jadi sasaran perusakan massa, atau jika ketelanjangan itu diletakan tepat didepan sekolah SD jangan salah jika besok massa akan merusaknya dan menginjak-injaknya.
    Atau jika karya tadi dipasang di negara yang memiliki moral dan hukum agama yang kuat jelas itu akan menjadi masalah.
    Tetapi berbeda jika sebuah karya, yang memang nampak telanjang dan memang kita bisa mengkatagorikannya “kelihatan”, diletakan di galeri nasional atau museum di newyork.
    Jadi jelas ruang dan waktu menjadi sebuah aspek yang penting bagi karya yang menampilkan ketelanjangan tadi. Tetapi kalau mau ditelaah lagi lebih jauh dari itu..

    Jika kita memahaminya lebih lagi, jika foto yang jelas bisa dikatagorikan “kelihatan” diletakan di sebuah gallery dengan tujuan untuk menimbulkan “perenungan” “pemahaman” baru bagi penikmat karya, dicipitakan dengan nilai estetis (bukan sekedar telanjang), bahkan jauh dari itu bukan mengajak penikmat karya ke dalam birahi maka kita bisa pahami karya tadi pantas dipahami sebagai sebuah karya seni.
    Tetapi bukan berarti apa yang ada didalam gallery serta merta jadi sebuah karya! Belum tentu…karena kita menangkap sendiri apakah karya tadi bisa membawa si penikmat kepada perenungan dan pemahaman baru dari berkeseniaan atau membawanya hanya sekedar hanya merasakan biraninya membara.
    Maka sekalipun karya tadi sama sekali tidak ada unsur seninya bahkan lebih kepada seronok sekalipun diletakan di gallery ia akan tetap disebut sebagai materi porno..bukan seni.
    Jadi ada satu proses yang terjadi didalam diri setiap orang (entah si penikmat atau si pencipta).

    “Semua itu hanya tergantung otak kita memahaminya…”

    My father

Leave a Comment

 
home

faq
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA